Ciri karakter

BAB I

PENDAHULIAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

       Mengenal diri sendiri sangat penting sebelum kita mengenal orang lain. Memahami hakikat diri sendiri lebih sering menjadi hal yang sangat sulit dimata kebanyakan orang. Mereka sering menilai orang lain namun tak pernah menilai dan mengenal dirinya sendiri. Banyak orang dengan mudah  mengenali orang lain, tetapi ternyata tidak berhasil mengenali dirinya  sendiri.

      Mengenali diri sendiri tidak semudah mengenal orang lain. Oleh karena itu,  siapapun  sedemikian mudah menemukan kesalahan orang lain, tetapi tidak gampang melihat kesalahan   diri sendiri. Akibatnya, banyak orang menganggap bahwa orang lain selalu salah, kurang,  dan tidak ada benarnya. Begitu pula sebaliknya, dirinya selalu diangaggap paling benar. 

      Betapa sulitnya mengenal diri sendiri itu, hingga ada hadits nabi yang mengatakan bahwa siapa saja yang berhasil mengenal dirinya,   maka akan bisa mengenal Tuhannya. Man arafa nafsahu faqod arafa rabbahu.  Seseorang yang mampu mengenal dirinya secara benar, maka akan berlanjut bisa  mengenal Tuhannya secara benar pula. Namun sayangnya, sekalipun sekedar mengenal dirinya  sendiri ternyata tidak mudah. Itulah sebabnya,  tidak semua orang mampu mengenal Tuhannya.   

       Dalam kehidupan sehari-hari orang yang tidak  mampu mengenal dirinya sendiri dianggap sebagai orang  yang tidak tahu diri. Padahal,  sebutan atau identitas itu   dianggap  kurang baik.  Orang yang  tahu diri  biasanya  bisa menempatkan posisiya secara tepat.  Tatkala berbicara, mengambil sikap,  berperilaku dalam pergaulan,   bagi orang yang paham terhadap  dirinya sendiri, maka   tidak akan melakukan kesalahan. Begitu pula  sebaliknya, bagi orang yang tidak tahu diri.

       Memahami  diri sendiri,  sebagaimana dikemukakan di muka,  ternyata  tidak mudah. Akan tetapi seharusnya  dilakukan oleh setiap orang. Oleh karena itu,   mempelajari  tentang diri sendiri  jauh lebih penting  dibanding mempelajari orang lain. Bagi orang bijak dan arif,  justru yang paling penting adalah memahami diri sendiri agar  bisa meletakkan dirinya secara benar dan tepat. Banyak orang melakukan kesalahan hanya oleh karena tidak mampu memahami dirinya sendiri. 

B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Apakah secara biologis penulis memiliki struktur tubuh yang sempurna?

2.      Bagaimana kecenderungan penggunaan otak penulis?

3.      Apa yang menjadi stressor bagi penulis?

4.      Bagaimana reaksi tubuh terhadap stressor tersebut?

5.      Bagaimana jenis copingnya untuk memecahkan stressor tersebut?

 

C.    TUJUAN

1.      Untuk mengetahui struktur tubuh secara biologis.

2.      Mengetahui kecenderungan penggunaan otak bagian mana.

3.      Mengetahui apa saja yang menjadi stressor.

4.      Mengetahui reaksi tubuh terhadap stressor tersebut.

5.      Mengetahui jenis copin yang dapat memecahkan stressor tersebut.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Struktur Biologis

Secara biologis penulis memiliki struktur tubuh yang sempurna layaknya manusia lain pada umumnya. Yang artian memiliki tangan, kaki, kepala, hidung, mulut dan sebagainya dan itu berfungsi dengan sempurna tanpa ada kekurangan.

B.     Penggunaan Otak

Mengenai penggunaan bagian otak, penuliis sedikit bingung dengan dirinya sendiri. Penulis menyebutkan bahwa keseharianya lebih banyak memakai otak bagian kanan. Karena dalam kesehariannya penulis menggunakan tangan kiri untuk menulis. Namun disisi lain untuk dalam hal kekuatan tangan penulis cenderung kuat tangan kanan dari pada tangan kiri, hal ini bisa dilihat ketika penulis mengangkat benda yang berat seperti ember yang berisi air penulis menggunakan tangan kanan untuk mengangkatnya. Begitu juga dengan fungsi kaki, walaupun penulis menggunakan tangan kiri untuk menulis namun untuk fungsi kaki penulis menggunakan kaki kanan. Hal ini dapat dilihat dari penulis menendang dengan kaki kanan dan tidak bisa menggunakan kaki kiri sebagus kaki kanan. Dan juga yang membuat penulis nambah bingung ketika penulis di beri sebuah gambar yang menyebutkan “apabila anda melihat gambar, maka anda menggunakan fungsi otak kanan” dan disitu penulis melihat gambar yang berbeda dari apa yang di maksud dalam gambar tersebut. Namun apakah test tersebut benar atau tidak sehingga bisa dijadikan acuan, penulis juga tidak tahu.

C.     Stressor

Stressor yang pertama adalah stressor internal yang berupa distress yaitu seperti tuntutan kuliah seperti saat ini yaitu dimana tugas kuliah menunmpuk menjelang UAS. Kedua adalah stressor internal yang berupa eustress seperti fitness yang merupakan tekanan terhadap saya untuk melahap menu latihan yang diberikan instruktur. Seperti mencapai poin tertentu dalam sebuah alat fitness. Dan itu merupakan tantang bagi saya untuk melampaui target yang diberikan intruktur.

Sedangkan untuk stressor eksternal yang berupa distressnya adalah seperti tekanan oleh keluarga yang menuntut ku terus untuk menyelesaikan study secepatnya dan maksimal empat tahun. Dan stressor external yang berupa eustressnya adalah seperti apabila laptop saya programnya sedikit bermasalah, maka itu merupakan tantangan bagi saya untuk mencari tahu penyebabnya dan memecahkannya.

D.    Reaksi Tubuh

Reaksi tubuh terhadap beberapa gejala stress diatas adalah yang pertama adalah kognitifnya yang berupa. Pikiran saya menjadi kacau dan tidak kosentrasi. Dan reaksi afektifnya adalah perasaan menjadi gundah, kecewa dan amarah menaik. Sedangkan reaksi perilakunya menjadi diam, malas bicara dan malas beraktifitas dan hanya mau tiduran di kamar. Atau bisa dengan melampiaskannya terhadap sesuatu seperti memukul tembok atau menedang sesuatu.

E.     Jenis Coping

Jenis copingnya yang berupa jenis coping emosi dan coping rasional. Jenis coping emosinya adalah lari ke agama, angan-angan dan humor. Sedangkan untuk jenis coping rasionalnya yaitu yang besifat menjurus kepemecahan masalah seperti menyelesaikan tugas kuliah dengan segera dan mencari penyebab masalahnya pada stressor lainnya.

BAB III

KESIMPULAN

 Jadi setelah dikaji dengan pendekatan teori psikologi umum dapat disimpulkan bahwa penulis memiliki struktur tubuh yang sempurna layaknya manusia lainnya serta memiliki emosi dan perasaan yang sama seperti manusia lainnya. Selain itu juga penulis mengakui bahwa penulis masih memiliki jiwa yang labil dan masih sangat rentan akan pengaruh-pengaruh dari luar stressor-stressor yang bisa menyebabkan depresi dan atau pengaruh lainnya yang bisa menjerumuskan ke lembah hitam. Intinya penulis mesih terus mencari jati diri yang sesungguhnya. Dan juga penulis menyimpulkan bahwa dirinya adalah seorang yang temperamental. Dan inti dari semua ini adalah penulis masih membutuhkan bimbingan dan masukan untuk mengenali diri sendiri dan untuk mencari tahu jati diri yang sebenarnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s